Indonesia Merdeka: My longing for true freedom

"Freedom is not merely the opportunity to do as one pleases; neither is it merely the opportunity to choose between set alternatives. Freedom is, first of all, the chance to formulate the available choices, to argue over them — and then, the opportunity to choose". -C. Wright Mill

Hari ulang tahun kemerdekaan yang dirayakan oleh moyoritas masyarakat di Indonesia dari mulai religiously upacara bendera, pesta rakyat; mulai lomba panjat pinang, tarik tambang sampai musik dangdut -di KBRI Londonpun acaranya goyang dangdut, that’s right- mugkin rightly so, adalah ungkapan kegembiraan sebagaian besar orang Indonesia, tapi bagi minoritas? Indonesia has a long way to go.

Indonesia, post kekuasaan orde baru, to its credit, sudah melangkah cukup jauh dalam waktu yang sangat pendek, demokratisasi di segala aspek sudah bisa kita rasakan, proses pemilu yang fair, freedom of speech, dan dengan menutup mata kejadian** kecil tentang media di Indonesia, kita sudah punya free press.

It’s all good in the cover. tadi disaat kita sudah punya pemerintah yang meski jauh dari sempurna, sudah bisa dibilang masuk akal and did reasonably good jobs. What’s trouble me most is the attitude of majority of Indesians yang belum bisa menelaah kebebasan secara utuh, bebas berarti kebebasan untuk memilih, dan sejauh itu tidak melanggar hak orang lain, kebebasan itu harus dijaga dan di hormati, konsekuensinya adalah kita harus menjadi legawa kalau orang lain berbeda dengan kita.

Dalam kesempatan ini saya menyoroti tentang beberapa insiden yang ada di Indonesia akir akir ini, misalnya, bagaimana kaum Ahmadiah di discreditkan, dimusuhi and at some levels diperangi secara fisik. Terus adanya attitude yang condong ke kekerasan jika suatu kelompok tidak manut ama mayoritas, seperti intimidasi intimidasi FPI terhadap pihak Playboy atau kelompok anti RUU-APP yang tidak jarang diwarni kekerasan. It saddens me so much and I really feel for them, the minority.

The ather attitude that I really hate, though, often come across, both from general public and ironically some highly educated people that I know, is the tendency to simplify things.

Contoh: Attititude yang menganggap, Aceh, Irian, Maluku itu bagian Indonesia, therefore, mereka ga punya hak macem**, kalo masih mokong sikat aja. Another, Perang Israel itu perang antara Yahudi dan Islam, therefore Yahudi selalu salah dan Islam selalu benar, sikat habis Yahudi! mari Jihad ke Lebanon! more? Di Indonesia itu mayoritas adalah Islam Sunni, therefore, Islam yang aneh** seperti Ahmadiah and co, tidak bisa diterima, sikat habis mereka!….so much for the freedom.

Mungkin klaim klaim diatas ada elemen kebenaranya, but it becomes so wrong when they come up with a quick fix based on simpliflying not-so-simple-problem. Jadi intinya kita jangan terlalu gampangnya menjudge apa apa yang kita sendiri belum 100% faham, mungkin cara yang terbaik adalah mempelajari dan mendengar point of view dari kedua sisi dan mungkin juga rumus Stephen R. Covey dalam hal ini sangat berguna: Seek firts to understand…than to be understood

Atau mungkin juga pak Frederick Douglass saat membuat statement dibawah, sudah melihat bagaiamana keadaan Indonesia disaat ini, sehingga dia berucap:

"Those who profess to favor freedom and yet depreciate agitation, are people who want crops without ploughing the ground; they want rain without thunder and lightning; they want the ocean without the roar of its many waters. The struggle may be a moral one, or it may be a physical one, or it may be both. But it must be a struggle. Power concedes nothing without a demand; it never has and it never will."

Anyway, Dirgahayu Indonesia yang ke 61!

..And for you non-Indonesians who seek to undertand democracy in Indonesia, I can assure you, freedom does exist in this country (terms and conditions apply, courtesy of the majority).

Leave a Reply