Sandal jepit istriku

Aku kaget banget melihat artikel ini dimuat di kolom Resonasi Suara Merdeka hari ini. Bukanya apa** tapi aku hanya heran, kenapa tidak disebutkan siapa penulisnya, yang lebih tidak mengenakan, dibawah kolom tercantum, copyright@2004 SUARA MERDEKA, berarti yang punya hak cipta Suara Merdeka dong, really?? aku nggak percaya banget.

Pertama, aku sudah lihat tulisan ini disebuah website muslim 3 tahun yang lalu, dan dari waktu ke waktu selalu beredar di mailing list, to be fair aku nggak pernah tau siapa pengarangnya dan most of the time, orang yang menyebarkan tulisan ini biasa refer dengan "dari milist tetangga". I think that’s understanable, sebab itu forum tidak resmi, tapi kalau tiba** Suara Merdeka mengclaim itu hak cipta mereka, itu sangat tidak fair bagi siapapun itu penulis artikel ini, tentunya ini adalah contoh yang sangat jelek tentang penghargaan karya orang lain apalagi ini dilakukan oleh media nasional seperti  Suara Merdeka

…..dan kita berharap penjual VCD dan software bajakan untuk belajar menghormati hak cipta orang lain? please..

Anyway, aku baca lagi karena memang artikelnya sangat bagus, hampir 95% alur ceritanya sama cuman ada edit sedikit sana sini, seperti kata "mama" diganti "Maryam" dan pada akir cerita di edisi Suara Merdeka dia bilang "Alhamdulilah jazakallahu…" kallahu what..?? kalau orang muslim bilang gitu, biasanya dia nggak akan stop ditengah jalan kayak gitu, seperti yang ada di versi original "Alahamdulilah jazakallahu khoiro" (ucapan trimakasih muslim kepada laki**, jazakillahu kepada perempuan dan jazakummullahu untuk orang banyak). dan ada beda lagi disana sini, tapi kayaknya aku suka versi originalnya karena lebih masuk akal dan meyakinkan.

Anyway, yang aku paste dibawah ini adalah versi original yang aku tahu (kebetulan masih aku simpan dalam emailku) dan kalau pingin tau versi  Suara Merdeka klik di  disini. Either way, ini adalah artikel bagus buat para bapak dan calon bapak, spot the differences!!

==================================================================================

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesaldan jengkel yangmemenuhi kepala ini. Duh... betapa tidak gemas, dalamkeadaan laparmemuncak  sepertiini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskanlidah. Sayur sop inirasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnyaasin nggakketulungan.  "Mama...Mama, kapan kau dapat memasak dengan benar...? Selalusaja, kalau takkeasinan...kemanisan, kalau tak keaseman... yakepedesan!" Ya, aku takbisa  menahanemosi untuk tak menggerutu.

"Sabar Pa..., Rasululloh juga sabar terhadap masakanAisyah danKhodijah.Katanya mau kayak Rasul...?" ucap isteriku kalem."Iya... tapi abi kanmanusiabiasa. Papa belum bisa sabar seperti Rasul. Papa taktahan kalau makanterusmenerus seperti ini...!" Jawabku dengan nada tinggi.Mendengarucapanku yangbernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepaladalam-dalam. Kalausudahbegitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketikapulang benak ini penuhdengan jumput-jumput harapan untuk menemukan 'baitijannati' dirumahku. Namunapa yang terjadi...? Ternyata kenyataan tak sesuaidengan apa yangkuimpikan.Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuhkeliling. Bayangkansaja,rumah  kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak(pecah). Pakaianbersih yangbelum  disetrika menggunung di sana sini.Piring-piring kotor berpestapora didapur,  dan cucian... ouw... berember-ember. Ditambahlagi aroma baubusuknyayang  menyengat, karena berhari-hari direndam dengandetergen tapi takjugadicuci.

Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfarsambil mengurutdada."Mama...mama, bagaimana Papa tak selalu kesal kalaukeadaan terusmenerusbegini...?" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala."Mama... isterisholihatitu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia jugaharus pandai dalammengatur  tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisamasak,nyetrika, nyuci, jahitbaju,  beresin rumah...?" Belum sempat kata-katakuhabis sudah terdengarledakan tangis  isteriku yang kelihatan begitu pilu."Ah...wanitagampang sekaliuntuk  menangis...," batinku berkata dalam hati."Sudah diam Ma, takbolehcengeng.  Katanya mau jadi isteri shalihat...? Isterishalihat itutidak cengeng,"bujukku  hati-hati setelah melihat air matanyamenganak sungai dipipinya."Gimana nggak  nangis! Baru juga pulang sudahngomel-ngomel terus.

Rumah ini berantakan karena memang Mama tak bisamengerjakan apa-apa.Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Mama kanmuntah-muntahterus, inibadan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucapisteriku diselingi isaktangis."Papa nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orangyang hamil muda..."Ucapisteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetapmerebak. Pa...,siang nantiantar Mama ngaji ya...?" pinta isteriku. "Aduh, Ma...Papa kan sibuksekalihari  ini. Berangkat sendiri saja ya?" ucapku. "Yasudah, kalau papasibuk, Mamanaik  bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan dijalan," jawabisteriku."Lho, kok  bilang gitu...?" selaku. "Iya, dalamkondisi muntah-muntahsepertiini kepala  Mama gampang pusing kalau mencium baubensin. Apalagiditambahberdesak-desakan  dalam bus dengan suasana panasmenyengat. Tapimudah-mudahan sihnggak  kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi. "Ya sudah,kalau begitunaik bajajsaja,"  jawabku ringan.

Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan.Kesempatan waktuluang inikugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hatiini tiba-tiba sajamenjadi  rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempatisterikumengaji. Di depanpintu  kulihat masih banyak sepatu berjajar, inipertanda acara belumselesai.Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itusatu persatu. Ah,semuanya  indah-indah dan kelihatan harganya begitumahal. "Wanita,memang sukayang  indah-indah, sampai bentuk sepatu punlucu-lucu," aku membathinsendiri.

Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendaljepit yang diapitsepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh."Oh....bukankahini sandaljepit isteriku?" tanya hatiku. Lalu segera kuambilsandal jepit kumalyangtertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuhtanpa terasa. Perihnian  rasanyahati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku takpernah memperhatikanisteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harusbersandal jepit kumal.Sementarateman-temannnya bersepatu bagus. "Maafkan Papa Ma…,"pinta hatiku.

"Krek...," suara pintu terdengar dibuka. Akuterlonjak, lantasmenyelinap  ketembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintassambil menggendongbocahmungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warnabaju dan jilbabibunya.Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu,kembali melintasukhti-ukhtiyang lain. Namun, belum juga kutemukan istriku.

Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumahitu, tapi isterikubelum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosoktubuh berbayagelap danberjilbab hitam melintas. "Ini dia mujahidahku!" pekikhatiku. Ia bedadenganyang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lainmemakai baju berbungacerahindah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudahlusuh pula warnanya.

Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosakarena selama inikurangmemperhatikan isteriku. Ya, aku baru sadar, bahwasemenjak menikah belumpernah  membelikan sepotong baju pun untuknya. Akuterlalu sibukmemperhatikankekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semuaitu begitu banyakkelebihanmu, wahai istriku.

Aku benar-benar menjadi malu pada Alloh dan Rasul-Nya.Selama ini akuterlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku takpernah kuurusi.PadahalRasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamuadalah yang palingbaikterhadap keluarganya." Sedang aku..? Ah, kenapa pulaaku lupa bahwaAlloh  menyuruhpara suami agar menggauli isterinya dengan baik.Sedang aku...?terlalu  seringngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia takdapatmelakukannya.Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!!

"Mama...!" panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itumelintas. Tubuh itulantas berbalik ke arahku, pandangan matanyamenunjukkanketidakpercayaan ataskehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihatperlahan bibirnyamengembangkan senyum. Senyum bahagia. "Papa...!"bisiknya pelan dangirang.  Sungguh,aku baru melihat isteriku segirang ini. "Ah, kenapatidak dari dulukulakukanmenjemput isteri?" sesal hatiku. Esoknya aku membelisepasang sepatuuntukisteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembalimengembang daribibirnya. "Alhamdulillah, jazakallahukhairoh yahPa...,"ucapnya dengansuara  tulus.Ah, Mama, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu.Lagi-lagi sesalmenyerbuhatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukurmemperoleh isterizuhud  dan'iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahubetapa nikmatnyamenyaksikanmatamu yang berbinar-binar karena perhatianku...?

2 Responses to “Sandal jepit istriku”

  1. abdul Aziz Says:

    kisahnya bener2 menyentuh, bisa jadi pelajaran buat cowok2. dulu waktu pdkt, ngejarnya mati2an pokoknya sampe dapet dengan segala cara tapi waktu udah dapet, malah disia-siain.bener juga kata DEWA “cinta bukan sekedar kata2 indah, cinta bukan sekedar buaian, belaian peraduan.Cinta perlu bukti, setuju?

  2. anthi Says:

    keren artikelnya…ampe terharu bacanya he he bikin semangat kaum wanita..cayoo

Leave a Reply