Postmodernism, a wrong birthday gift

ketika seorang temenku ultah, aku kasih dia testimonial selamat di FSnya, karena kita sama** tertarik postmodernism, aku lemparin aja quote dari Appignanesi’s and Garrat’s book:

"Can we speak of a postmodern “history”? Not if we take postmodern
theory seriously, which challenges the very idea of a unilinear
history. Postmodernism cannot follow in sequence after modernism,
because this would be an admission of historic progress and a relapse
into Grand Narrative mythology.

I then wrote "Happy birthday! hope it gets you thinking". Tanpa berharap to get a reply, aku pikir, it may just put on a smile on her face. How wrong I was, the following day, dia langsung kirim message, ngedamprat dan nantang aku ama counter argumennya dia, di messagenya dia menjawab quote di atas:

Memperbincangkan ‘sejarah’ postmodern bagi
banyak orang selalu sama menariknya dengan
kondisi postmodernitas itu sendiri.  Salah satu
argumen yang sering aku dengar untuk memaknai
kondisi post modernitas adalah ‘akhir dari
modernitas’ dan berbagai argumen yang senada
(akhir dari sejarah, akhir dari filsafat, akhir dari
grand narratives, akhir dari ideologi, dsb).  Tapi apa
benar, dalam kondisi postmodernitas ini kita telah
benar-benar meninggalkan kondisi dan ruang
modernitas?  Toh, di saat pluralisme adalah tujuan
yang ingin kita capai, kondisi totalitarian,
universalisme, dan imperialisme modernitas tetap
tumbuh subur. 

Contoh kecil aja, kita sama-sama
melihat bagaimana interpretasi terhadap teks-teks
agama masih menjadi hal yang tabu dalam
masyarakat kita, bagaimana fundamentalisme
agama bangkit, menguat dan berusaha membabat
habis berbagai tafsir agama yang tumbuh bahkan
memunculkan serangan fisik terhadap anggota
komunitasnya. 

Makanya, aku agak susah untuk
melihat postmoderintas sebagai keterputusan atau
akhir dari kondisi modernitas (toh sejarah juga
bukan sesuatu yang linear bukan?).  Pun,
memperbincangkan ‘sejarah’ postmodern (apalagi
apabila ditinjau dari perioda sejarahnya) hampir
sama mustahilnya dengan tercapainya konsesus
tentang makna postmodern itu sendiri.

Sejarah memang penting, karena di situlah jejak-
jejak kehidupan dan kemanusiaan kita direkam,
dibekukan, dan diwariskan turun temurun.  Tapi
apakah memperdebatkan sejarah postmodernitas
menjadi begitu penting untuk dilakukan? 

Buatku pribadi, postmodernitas lebih dilihat sebagai
semangat untuk mendekonstruksi nilai-nilai
modernitas di mana rasionalitas digunakan
sebagai ukuran tunggal kebenaran, upaya
devaluasi terhadap nilai absolut, sebuah upaya
untuk menolak dan meleburkan setiap klaim akan
kebenaran tunggal/absolut dengan segala
karakteristik oposisi binernya : baik/buruk,
moral/amoral, rasional/irasional.  Dalam tataran
teoretis aku nggak bisa bicara banyak, karena
memang bukan kapasitasku untuk ngomongin itu.

Tapi paling tidak, spirit postmodern cukup
membuatku optimis untuk memperjuangkan
berbagai hak dan suara komunitas yang selama ini
direnggut dan dibungkam.  Salah satunya
komunitas perempuan korban 65 yang telah
dikambinghitamkan oleh politik orde baru dan yang
selama 40 tahun terakhir ini telah menyimpan
sejarah bangsa dalam diam.  Upaya untuk
mengembalikan nama dan kehormatan mereka
yang telah distigma sebagai pengkhianat bangsa,
penyayat penis para jendral, gerwani, wanita
sundal, dan berbagai stigma yang dilekatkan
secara paksa terhadap mereka adalah salah satu
upaya untuk mendekonstruksi sejarah/kebenaran
yang diklaim oleh pemerintah orde baru selama
ini. 

Setiap kepentingan berhak untuk mengklaim
kebenaran sesuai dengan kebutuhan mereka, pun
setiap kebenaran adalah kebenaran, yang wajib
diungkap bagaimana pun pahitnya, betapa pun
kecilnya. 

Semangat itu membuatku percaya
bahwa sejarah bisa ditulis kembali dan menantang
wacana yang selama ini sudah didogmakan dari
generasi ke generasi melalui kurikulum sejarah di
bangku sekolah.  Spirit postmodern juga
membuatku berusaha melihat segala sesuatau
dari sisi yang berbeda dan mencoba untuk
menolerir setiap perbedaan.  Perbedaan adalah
awal bagi kita untuk memulai dialog, menciptakan
ruang-ruang dialektika di mana berbagai ide,
gagasan, wawasan berkembang bersama dan
saling memperkaya satu sama lain.  Perbedaan
adalah sejarah itu sendiri.

Now, it gets me thinking…anyone care to join us?  for now, I wish her the happiest birthday. This writing however, may not mean anything for others, but for me, it sheds some light in the darkest corner of my mind, thank you.

Leave a Reply