Indonesia setelah Suharto
Disaat semua orang optimis kala SBY memenangkan pemilu dan diangkat menjadi president, Aku sangat pesimis dia adalah orang yang tepat untuk memimpin negri ini. Tapi sejak beberapa bulan lalu, disaat semua orang mulai pesimis tentang kemampuan SBY dikarenakan naiknya harga yang dipicu penarikan subsisdi BBM, aku mulai optimis SBY adalah orang yang tepat, bukan yang terbaik, tapi yang paling baik diantara yang ada, untuk saat ini.
Kenapa aku dulu pesimis? ada beberapa faktor; Pertama, background militer dia. aku sangat takut dia akan merestorari kekuatan militer untuk masuk lagi kedalam eksekutif dan lembaga lesgislatif. kedua, personality dia yang kurang decisive, lebih cenderung menunggu untuk mengambil keputusan, kualitas yang kurang baik untuk seorang pemimpin, ketiga cara dia memenangkan pemilu, after all dia populer bukan karena performance dia selama jadi mentri tapi karena kecerobohan Taufik kemas mengolok olok dia, oleh karena itu dia populer karena simpati masyarakat, aku anggap itu sebagai seorang yang memenangkan lotrei untuk jadi president.
Kekawatiranku tidak jadi kenyataan, SBY bukan orang yang heavy-handed sebagai layaknya militer dan penarikan total militer dari DPR adalah sesuatu yang melegakan (tapi Sutioso masih jadi Gubernur DKI ya?). Sifatnya yang menunggu untuk mengambil keputusan itu tetap kurang menyenangkan, tapi kayaknya cocok bagi Indonesia yang sekarang butuh kestabilan, bukan yang sangat Vocal dan grusa grusu kayak Amien rais, Idolaku dulu, after all SBY punya guine pig Jusuf Kalla untuk makilin saat dia pingin nyablak atau sekedar menguji kepopuleran kebijaksanaan yang kan dibuat.
Disisi lain, disaat semua orang pesimis (latest survey: kepopuleran SBY jadi 38% dari 70% saat pertama dia jadi president) aku mulai optimis, kenapa? karena ada beberapa hal yang dia lakukan yang aku sangat hargai. Pertama penarikan subsisdi BBM: semua orang bilang itu adalah sesuatu yang jelek bagi ekonomi, tidak membela rakyat dll. tapi kalo kita lihat baik** justru keputusan itu adalah satu**nya keputusan SBY yang sangat baik. kenapa? dengan adanya penarikan subsidi itu pemerintah bisa mengalihkan dana ke sesuatu yang lebih mengena, seperti program pengentasan kemiskinan dan subsidi lainya, tapi impact yang paling besar adalah untuk ekonomi makro.
Dengan adanya kebijakan itu pemerintah mampu untuk membuat kestabilan ekonomi yang sangat diperlukan disaat harga minya dunia melewati angka $70/Barrel. Kebijaksanaan itu bisa mengurangi rasio hutang Indonesia dari 50% GDP menjadi 30% by 2009, dan tentunay ini mengurangi ketergantungan kita terhadap IMF atau donatur lain belom lagi cadangan devisa negara yang naik cukup signifikan. Tentu ada inflasi sesaat, tapi untuk long termnya Indonesia bisa menekan inflasi di bawah 10%, dan dengan adanya pengurangan itupulah ekonomi Indonesia bisa sustainable; seperti pertumbuhan tahun ini yang diatas 5% dan mungkin akan lebih untuk tahun berikutnya.Aku mengerti dampaknya tidak langsung bagi rakyat luas, but trust me, kita semua akan merasakanya dimasa mendatang. Memang kebanyakan obat yang mujarab itu pahit rasanya, di kasus ini, aku pikir ungkapan itu sangat tepat.
Tentu saja SBY banyak sesalahanya tapi aku juga mulai melihat dari hasl kerjanya yang bagus; Aceh yang mulai damai, mulai adanya keseriusan dalam memberantas korupsi, meningkatkan iklim investasi (menyelesaikan maslah Exxon-Pertamina, mencoba merevisi undang2 buruh) dan politik luar negri yang mulai vocal (mencoba menjadi mediator Israel-Palestina, Iran-Amerika, presure ke Junta Myanmar dan pemersatuan Korea utara dan selatan). Meski semua itu masih terkesan half-heartedly dan belum mebuahkan hasil, tapi perlu dikasih penghargaan. Dan disaat musibah terus menerus menimpa Indonesia,it is hearting to see such an ackowledgement dari majalah paling respectable di dunia seperi di artikel di bawah ini.
Well, for now, itulah curhatku, not in a Bridget Jone’s kind of way, tapi itu memang curhatku. I guess, not many of my friends interested in this, but that certainly won’t put off my interest in my country.
Indonesia after Suharto: An understated success
26th May 2006,From The Economist print edition
Their former dictator is gravely ill. Indonesians have come a long way since his fall

THE passing of a former dictator sometimes forces a country to take
stock of itself. So it is with Suharto, who for 32 years towered over
the world’s most populous Muslim country. As his life moves peacefully
to its close, Indonesians seems baffled about how to think about the
old despot. Many millions revere him as the man who saved them from
communism and led his country towards prosperity. Many more Indonesians
see him as a dictatorial kleptocrat whose family looted the nation,
whose goons harassed and tortured dissenters, and who clung stubbornly
to power until being forced out in 1998 by a huge, but blessedly
peaceful, popular revolt.
There is truth, of course, in both accounts, which is in part why
the government of Susilo Bambang Yudhoyono has seemed so uncertain how
to treat the old man. Until recently, it was still investigating him
for corruption. But on May 12th, as Mr Suharto seemed near to death,
the attorney-general abruptly declared that the government was dropping
all criminal proceedings against him. Now it is said that the
government is considering the possibility of bringing civil charges for
corruption against him instead—though given Mr Suharto’s health any
investigation would be purely symbolic.
Mr Yudhoyono’s ambivalence towards the dictator is symptomatic of a
big flaw in his administration: a reluctance to give Indonesia a true
culture of accountability. Mr Yudhoyono served as a general in the
Suharto years and has trodden carefully when confronting the worst
excesses of that time. Neither Mr Suharto nor any of his family has
been put on trial for corruption (though his son, Tommy, was jailed on
a murder charge before Mr Yudhoyono took over). Nor has there been a
determined attempt to bring to justice those army officers who oversaw
atrocities in East Timor and Irian Jaya (now known as Papua) after Mr
Suharto fell, let alone those who committed them while he was still in
power. To be fair to Mr Yudhoyono, his three predecessors also failed
to grasp this nettle and some lowlier officials have recently been
rightly fired. But as the first directly elected president in
Indonesia’s history he has had the legitimacy, and the duty, to do
better.
For all that, Mr Yudhoyono’s cautious and consensual style has
served Indonesia well. His greatest achievement has been to help bring
what increasingly looks like a permanent peace to Aceh, a separatist
province on the island of Sumatra, which has been fighting for
independence for 30 years. Tension in Papua, at the other end of the
Indonesian archipelago, has spiked in the past few months, but even
there things are quieter than they were in the early years of this
decade. Radical Islamism, though hardly eradicated, has calmed down
markedly, thanks to good police work and tough courts. All of these
things started to go right under Mr Yudhoyono’s predecessor, Megawati
Sukarnoputri, but he was her security minister.
A nice little earner
In the economic arena, Mr Yudhoyono has been equally impressive,
despite a slow start after his election in September 2004. He now has a
decent economics team, and he personally unblocked a tottering deal
between the state-owned energy company, Pertamina, and America’s Exxon
by replacing Pertamina’s top management. Other big deals are being
negotiated, helped by the perceived stability and relative integrity of
the government. Last October Mr Yudhoyono even dared to cut Indonesia’s
costly oil subsidies. He has kept growth steady at around 5% a year,
and the rupiah strong.
None of this
is irreversible. Indonesia has its fragilities. But as they take stock
of a painful past, its people can take pride in recent achievements. In
a giddily short space of time, they have built a plural democracy,
where Islamist parties can fight (and lose) elections peacefully, and
where the army at last accepts civilian rule. Indonesia is a steady
economic performer and an increasingly attractive destination for
investment. However history judges Mr Suharto, the Indonesia of today
has become, in its understated way, a success.
June 1st, 2006 at 9:22 pm
Di tengah-tengah pesimisme bangsa kita sama pemimpinnya sendiri, bagus lah kalo ada orang yang masih percaya dan yakin kalo dia dipimpin sama orang yang paling tepat.
Buat gue udah bukan masanya lagi ngomongin dia yang tepat atao bukan, toh SBY udah jadi presiden kita yang mau ngga mau ya harus jadi orang yang kita titipin hidup. Tapi orang yang udah dikasih amanat besar sama bangsa ini juga nggak luput dari dosa dan kesalahan kan?
Satu yang aku nggak sepakat dikatakan sebagai prestasi SBY, Aceh memang tidak lagi berada dalam situasi konflik, tapi masih jauh dari kondisi damai. Penandatangan kesepakatan damai di Aceh menyisakan banyak persoalan di sana, terutama terkait dengan penetapan berbagai perda/qanun yang secara legal konstitusional banyak bertentangan atau tidak sejalan dengan hukum nasional kita. Toh pemerintah kita ngga bisa berbuat apa-apa karena bargaining politik mereka di Aceh sangat lemah atau bisa dibilang memang sudah tidak ada. Terus terang situasi ini kadang bikin aku sangat miris terlebih paska tsunami Aceh seperti jadi rumah kedua gue dan sedih setiap kali teman-teman di sana bercanda minta dievakuasi karena ada darurat syariah.
Terakhir, kebijakan menyangkut penanganan gempa di Jogja juga satu raport buruk SBY. Alih-alih mengambil peran koordinasi, SBY malah berteriak supaya bencana ini jangan dipolitisir. Please deh, siapa sih yang pengin molitisir bencana ini (kecuali politisi of course). Kita cuma pengin bapak segera menetapkan status bencana ini, bukan untuk tujuan politis, tapi supaya jelas siapa yang akan bertanggungjawab terhadap penanganannya. kalo bencana nasional berarti JK sbg Ka Bakornas yg leading, kalo bencana daerah berarti Sultan & gub Jateng yg leading. Nah ini status nggak jelas, bener aja kalo orang limpah-limpahan tanggung jawab. Padahal yg kita pertaruhkan adalah ribuan nyawa saudara-saudara kita yang seminggu setelah bencana pun masih berkutat dengan masalah survival..
Sorry ya, mungkin ini terlalu berlebihan untuk menilai kinerja prseiden yang luar biasa (masalah pengurangan subsidi dan dampaknya terhadap ekonomi makro aku gak tau deh, tapi kalo masalah pelepasan aset2 bangsa ke tangan pemodal2 asing itu gimana, blok cepu misalnya?), tapi bener-bener aku lagi kesel ngeliat situasi ini.
June 2nd, 2006 at 9:17 am
masalah Aceh harus dilihat dari perpektive yang netral dong, ok mereka belum tuntas 100% tapi dibanding dibawah 4 president terakir, perdamaian disana jauh lebih baik sekarang, militer mulai keluar dan mulai ada harapan yang bagus disana.
Apapun yang dilakukan SBY pasti bermuat politis, dia itu politikus remember? Kejadian Jogja itu bencana nasional bersekala besar, I think he has done reasonably good, it could have been worse anyway.
Masalah cepu, kalo kamu pelajari lagi, masalah nggak akan ada kalo Pertamina nggak nakalan in the first place, baca setiap MOU yang mereka buat, sebenarnya perjanjian joint venture itu suah disepakati lebih dari 4 tahun yang lalu, tapi Pertamina nggak commit dan mau seenaknya sendiri, dampak itu sangat buruk buat iklim investasi Indonesia, untungnya SBY turunt campur dan masalah selesai.
Privatisasi is good. Kalo kamu mau perhatikan setiap Company dibawah pemerintah selalu corrupt, underperformed dan habis2in uang rakyat untuk subsidi yang nggak berarti, lihat Garuda, mereka nggak efektif, nggak ada sense of accountability karena mereka pikir buat apa kerja ngoyo2 toh kalo ntar bangkrut akan ditolong oleh pemerintah (tentu dengan pajak yang dibayar rakyat). jadi semua perusahan dibawah pemerintah non strategis, are better off ditangan private investor, baik dlam ataupu luar negri, dengan begitu mereka akan kompetitif dan dampaknya akan dirasakan masyarakat.
mengenai privatisasi, setiap negara maju mengalami fase ini, dan study membuktikan di mana negara yang mau melakukan privatisasi aset nasional, maka dia akan berhasil.
Lihat inggris, di masa kepemimpinan Margaret Tatcher (80an), mereka melakukan efficiency dan privatisasi besar2an, sebuah keputusan yang tidak populis dan ditentang banyak rakyat, tapi dampak long termnya sangat bagus, ekonomi Inggris sekarang sangat maju dibanding France (yang melakukan privatisasi setengah hati) pengganguran di Inggris salah satu yang terendah di dunia, GDP bagus, market kompetitif, inflasi rendah dan growthnya yang tertinggi di Europe.
I am sorry to sound a bit capitalist, but I try to learn from the mistakes and succes of other country, I want the best for my country and if it is means I deliberately avoid blinding nationalism, then let it be.
June 4th, 2006 at 3:14 am
Thanks for the explanation. Actually, u’re not sound like capitalist at all. Privatisasi is good, aku setuju, asal dilakukan dengan ‘bersih dan tidak berdarah-darah’ seperti yang terjadi selama ini dan tidak menimbulkan kesnjangan-kesenjangan baru. Tidak menciptakan penguasa-penguasa baru seperti trend negara kita saat ini di mana politikus bukan lagi penguasa di negara kita, tapi justru para pengusaha yang by nature memang greedy. Juga jangan sampai mengundang ‘perampok-perampok’ baru seperti freeport yang telah menciptakan sepenggal amerika di tengah2 kemiskinan papua, seperti newmont yang tidak hanya merenggut kekayaan buyat tapi juga merenggut hidup mereka-mereka yang tumbuh di atasnya. Mungkin kamu perlu pulang ke indonesia dan ambil alih kementerian BUMN agar pelepasan aset2 negara berjalan dengan aman dan sesuai harapan. By this time, aku belum menemukan orang lain yang bisa aku percaya..hehe
Ketika aku bilang kecewa sama kinerja SBY-JK khususnya menyangkut Aceh itu juga dimaksudkan agar dunia bisa ngeliat bahwa Aceh masih menjadi masalah. Bahwa penandatangan MOU RI-GAM bukanlah akhir dari konflik yang terjadi di Aceh, tapi justru memunculkan berbagai konflik horisontal lain di mana uang dan kekuasaan dijadikan reward, di satu sisi human rights menjadi satu elemen yang tergadai. Ketika nilai-nilai hakiki manusia sudah tidak diberi tempat, aku merasa ngga adil aja jika mengambil sikap yang netral, i have my own interest and sorry for saying it.
July 23rd, 2006 at 9:10 am
Wah.. bagus tulisannya..