Archive for June, 2006

Isle of Wight

Friday, June 23rd, 2006

Orang bilang.."no man is an Island", Aku pikir itu konsep yang salah, tapi ada benernya. Wrong because, I am a bloody Isle of Wight! well… at least beberapa hari yang lalu waktu aku dan dua temenku pergi to this beautiful tiny Island deket Portsmouth, true because the trip wouldn’t have been so complete without this two beautiful ladies

Ferry_routes

****************************************************************
Meet the crews:

::>Img_2866_1 Hafiza Ramly: We call her Ija, Malaysian, temen kerjanya Vita, the Driver, Rocket Scientist, Seriously, she really is Rocket Scientist, we don’t mess with her cos she loves to blow things up, She is nice but I never I understand a word she say, so I kindly ask her to speak English all the time.

_______________

::>Img_2659 Onny Vitadini Wulandari: Alias Vita, The X, the cook, map and mind reader and someone that I always have an argument with. Oh..she loves fish, any kind of fish, so guys…next time you date her, take this lady to sea food restaurant, you’ll gonna blow her away, oysters is her favaourite.

________________

::> Img_2454Johny Deep: Everyone call me Iwan though, don’t know why but I don’t mind. The only sole male survivor in this trip, tukang angkat** barang and self-aclaimed Phothograper mainly for two reasons, first, my camera is bigger than the other, second, becuse I own a SIGNED copy of my hero David Bailey and I just bought a book called Erotique Digitale, as you might have guessed, it’s about nude photography, boy…I would love to do it someday, kalo ga nemu model, Istriku ntar kau jadiin bulan bulanan,  aerr…

___________________

It was originally idenya Ija untuk ngajak Vita ke pulau ini, I overheard this conversation a month ago and suggested to them kenapa kita nggak pergi sama dan nyewa mobil instead of naik kendaran umum, deal or no deal? deal, dan Ija punya full driving licence. Kebetulan 2 minggu ini aku ambil cuti and aku push mereka untuk bisa ngambil extra 1 hari off dari dua hari seminggu yang mereka bisaa dapet dari company mereka, so kita setuju berangkat saptu pagi dan pulang senin sore.

Car sudah di book, insurance covered, tiket ferry untuk nyebrang  dah dibeli aku udah book penginapan selam kita disana, everything seems so perfect sampe jumat malam sehari sebelum kta berangkat, Ija frantically telepon aku dan teriak denga bahasa Malaynya, all I heard was scream and …"*(&^88*&7BF56^$%^((( BIU76798-mju%^io hfg%$&*piutr"…..I said.. wait! slow down..and English please…dan ternyata driving licencenya dia baru expired 3 bulan yang lalu dan dia baru sadar sekarang…duh, mana sewa mobil dah dibayar lagi, how are we supposed to collect the car? mereka pasti ga akan ngelepasin. Anyway, akirnya kita gamble dan come up with brilliant idea, instead of nunjukin SIMnya, dia nunjukin KTP Malaysianya yang bentuknya mirip SIM, Alhamdulilah..sorted, and off we go!

Perjalanan ke Porthmouth lancar, and kita mampir untuk belanja sebentar beli snack minuman dan lain** on top apa yang sudah dibawa ama 2 cewe ini. From personal experience, setiap kali aku bepergian sama cewe, itu dari segi logistik kita pasti akan nyaman, why? karena mereka tend to bawa apa aja dan sebanyak mungkin makanan seolah2 kita akan pergi ke bulan yang disana ga ada jual makanan, contohnya kemaren, kita pergi untuk 3 hari tapi si Vita bawa bekal makanan untuk 3 orang yang akan cukup untuk satu minggu, well aku sih enjoy aja, but secara pribadi aku nggak akan mau bawa berat2 kayak gitu and the sterotype is we men like to go tanpa beban, well seminim mungkin anyway.

**************************************************************
Terus sampe di Porthmouth 1 jam earlier karena kita book ferry yang jam 1, but it’s ok karena antrinya panjang, then we get in to the ferry, park the car naik keatas untuk enjoy pemandangan.
Img_2872Img_2876Img_2430Img_2903Img_2424_1

**************************************************************
Sesampainya kita di Isle of weight, kita langsung nyari akomodasi, aku book tempat di Sandown sebelah timur pulau ini, tapi setelah kita nyampai disana kita kok kurang sreg, terus kita nyari hotel lain, dari tourist information centre kita ketemu B&B reasonably priced and  it’s in good location,  mereka nggak punya single room untuk aku, akirnya mereka kasil twin room dengan harga single, not bad.

Not much happening in the first day, sampi sana kita capek tidur 3 jam dan sorenya, kita ke pantai deket Shaklin sampai malam banget, then go to bed. Besok paginya kita sarapan, dan berangkat sekitar pukul 10, kita ke Roman Villa, terus ke Flamingo Park, beach deket Flamingo park, terus kita ke drive ke Totland bay, berhenti di beach beli Ice cream, ke beach lagi di needle, pokontya kita drive around the Island from corner to corner and top along the way, but of all places, I love this, beautifull and very high cliff dengan pemandangan ke laut, oh the pictures don’t do the justice.

___________

Img_2715_1Img_2720Img_2727Img_2711

**************************************************************

Dan ini some pictures from the rest of the day, masih banyak lagi but uploadnya cuman 50 maksimal, so here they are:

Img_2611Img_2704Img_2700Img_2664

Img_2582_1Img_2844Img_2846Img_2684

Img_2649Img_2652Img_2915Img_2691_1

Img_2878Img_2730Img_2594Img_2793

***************************************************************

Dan sorenya sebelum kita pulang ke hotel, kita mampir ke Botanic garden, I loved it! cos aku bisa practice macro phography:

Img_2791Img_2781Img_2768Img_2562

Img_2747Img_2770Img_2802Img_2825

***************************************************************

I enjoyed that day immensely, and of course there are many things happen yang  aku ga bisa foto atau ceritakan semua, It trully was a great day. Terus malemnya kita beli fish and chips sampe di hotel jam 9 dan kita nonton France main, then we went to bed, exhausted but happy.

The following morning kita foto2 di garden belakang sebelum pulang, but hey…what is it with women and flowers?

Img_2546Img_2944

**************************************************************
Terus kita enjoy the last break fast, naik Ferry ke Porthsmouth, keliling kota Porthmouth ke beach lagi sebentar then we went  to London
Img_2733Img_2887Img_2850Img_2862

***************************************************************

Then kita nyampai London, nganterin belanja di supermarket, drop barang2nya  cewe dirumah masing masing dan balikin mobil. Sialnya, sebelum balikin mobil, kita noticed ada sedikit goresan di pintu mobil, kecil banget, but enough to made us worried kita akan bayar charge tambahan meski kita nggak yakin udah ada dari sononya atau baru, akirnya kita ada ide, kita kasil permanent marker hitam jadi ga kelihatan. Done, isi penuh bensin, then kita kembalikan, mobil dicek sebentar, all clear then kita say berpisah di teluk bayur, eh…ga ding, di stasiun West Brompton.

So long….ija said while waving her hands, kaya kita ga akan ketemu lagi, but then we would meet a few days later of course. What a weekend!!

Postmodernism, a wrong birthday gift

Wednesday, June 7th, 2006

ketika seorang temenku ultah, aku kasih dia testimonial selamat di FSnya, karena kita sama** tertarik postmodernism, aku lemparin aja quote dari Appignanesi’s and Garrat’s book:

"Can we speak of a postmodern “history”? Not if we take postmodern
theory seriously, which challenges the very idea of a unilinear
history. Postmodernism cannot follow in sequence after modernism,
because this would be an admission of historic progress and a relapse
into Grand Narrative mythology.

I then wrote "Happy birthday! hope it gets you thinking". Tanpa berharap to get a reply, aku pikir, it may just put on a smile on her face. How wrong I was, the following day, dia langsung kirim message, ngedamprat dan nantang aku ama counter argumennya dia, di messagenya dia menjawab quote di atas:

Memperbincangkan ‘sejarah’ postmodern bagi
banyak orang selalu sama menariknya dengan
kondisi postmodernitas itu sendiri.  Salah satu
argumen yang sering aku dengar untuk memaknai
kondisi post modernitas adalah ‘akhir dari
modernitas’ dan berbagai argumen yang senada
(akhir dari sejarah, akhir dari filsafat, akhir dari
grand narratives, akhir dari ideologi, dsb).  Tapi apa
benar, dalam kondisi postmodernitas ini kita telah
benar-benar meninggalkan kondisi dan ruang
modernitas?  Toh, di saat pluralisme adalah tujuan
yang ingin kita capai, kondisi totalitarian,
universalisme, dan imperialisme modernitas tetap
tumbuh subur. 

Contoh kecil aja, kita sama-sama
melihat bagaimana interpretasi terhadap teks-teks
agama masih menjadi hal yang tabu dalam
masyarakat kita, bagaimana fundamentalisme
agama bangkit, menguat dan berusaha membabat
habis berbagai tafsir agama yang tumbuh bahkan
memunculkan serangan fisik terhadap anggota
komunitasnya. 

Makanya, aku agak susah untuk
melihat postmoderintas sebagai keterputusan atau
akhir dari kondisi modernitas (toh sejarah juga
bukan sesuatu yang linear bukan?).  Pun,
memperbincangkan ‘sejarah’ postmodern (apalagi
apabila ditinjau dari perioda sejarahnya) hampir
sama mustahilnya dengan tercapainya konsesus
tentang makna postmodern itu sendiri.

Sejarah memang penting, karena di situlah jejak-
jejak kehidupan dan kemanusiaan kita direkam,
dibekukan, dan diwariskan turun temurun.  Tapi
apakah memperdebatkan sejarah postmodernitas
menjadi begitu penting untuk dilakukan? 

Buatku pribadi, postmodernitas lebih dilihat sebagai
semangat untuk mendekonstruksi nilai-nilai
modernitas di mana rasionalitas digunakan
sebagai ukuran tunggal kebenaran, upaya
devaluasi terhadap nilai absolut, sebuah upaya
untuk menolak dan meleburkan setiap klaim akan
kebenaran tunggal/absolut dengan segala
karakteristik oposisi binernya : baik/buruk,
moral/amoral, rasional/irasional.  Dalam tataran
teoretis aku nggak bisa bicara banyak, karena
memang bukan kapasitasku untuk ngomongin itu.

Tapi paling tidak, spirit postmodern cukup
membuatku optimis untuk memperjuangkan
berbagai hak dan suara komunitas yang selama ini
direnggut dan dibungkam.  Salah satunya
komunitas perempuan korban 65 yang telah
dikambinghitamkan oleh politik orde baru dan yang
selama 40 tahun terakhir ini telah menyimpan
sejarah bangsa dalam diam.  Upaya untuk
mengembalikan nama dan kehormatan mereka
yang telah distigma sebagai pengkhianat bangsa,
penyayat penis para jendral, gerwani, wanita
sundal, dan berbagai stigma yang dilekatkan
secara paksa terhadap mereka adalah salah satu
upaya untuk mendekonstruksi sejarah/kebenaran
yang diklaim oleh pemerintah orde baru selama
ini. 

Setiap kepentingan berhak untuk mengklaim
kebenaran sesuai dengan kebutuhan mereka, pun
setiap kebenaran adalah kebenaran, yang wajib
diungkap bagaimana pun pahitnya, betapa pun
kecilnya. 

Semangat itu membuatku percaya
bahwa sejarah bisa ditulis kembali dan menantang
wacana yang selama ini sudah didogmakan dari
generasi ke generasi melalui kurikulum sejarah di
bangku sekolah.  Spirit postmodern juga
membuatku berusaha melihat segala sesuatau
dari sisi yang berbeda dan mencoba untuk
menolerir setiap perbedaan.  Perbedaan adalah
awal bagi kita untuk memulai dialog, menciptakan
ruang-ruang dialektika di mana berbagai ide,
gagasan, wawasan berkembang bersama dan
saling memperkaya satu sama lain.  Perbedaan
adalah sejarah itu sendiri.

Now, it gets me thinking…anyone care to join us?  for now, I wish her the happiest birthday. This writing however, may not mean anything for others, but for me, it sheds some light in the darkest corner of my mind, thank you.

060606

Monday, June 5th, 2006

"This
calls for wisdom. If anyone has insight let him calculate the number of
the beast for it is man’s number. His number is 666".

Bagi orang yang superstitious atau kristian yang salah mengartikan ayat dari injil diatas, hari ini  mungkin hari yang luar biasa. why? mungkin tulisan dibawah akan menerangkan why.

Dibalik kurang kerjaanya orang** tersebut, atau lagi bergeraknya kembali semangat nasionalisme karena hari ini adalah hari lahir Bung Karno presiden pertama kita, for me angka 060606 ini means nothing, unfortunately it’s just another birthday for me.

I don’t like birthday, because deep down I want to stay young, young forever, never grow up, hindari tanggung jawab, hanya mau fun, marah kalau teringat umurku ternyata tidak bisa jalan ditempat, sembunyi dari prospek suatu saat aku akan jadi suami dan ayah, be whatever I want tobe tanpa adanya orang lain yang akan meracuni ideology hidupku, forever!!

It is however, impossible. The more you avoid this things, the more they come back to you, the wise thing is to take it slowly, digest it piece by piece while reminding yourself  that you may actually have enjoyment along the way.

Anyway, I’m 25 now (itu berarti, 5x pemilu, atau orde lama menamai, repelita) and still don’t like birthday. Contoh masuk masuk akal why; semalem seorang teman telfon aku untuk memberi selamat ulang tahun, you know what she said? "happy birthday ya wan…ingat kamu sudah tua.." Gubrak!! damn! what a nice way to say it…but hey! thanks anyway.

060606 is just another number for me, wait..ada yang suka judi togel? ayo pasang! kali aja keluar ;)

 

Better beware: Your days may be numbered

Duncan Graham, Contributor, Jakarta

Will
you feel beastly when you get up Tuesday morning? That would not be
surprising, for the day’s date will read as 6/6/06. Drop the 0 and
there you have it — the Mark of the Beast!

 

Still bemused? That means you haven’t been cavorting in the blogsphere
recently, a zone throbbing with awful predictions from those who put
their trust in numbers.

Forget Y2K and the millennium clock. Remember Dec. 31, 1999? Come
midnight and IT systems would go into meltdown around the globe. Planes
would tumble from the stratosphere as their computer-controlled
autopilots went dormant.

This is far more serious because it invokes the hand of God — not man.
This is Merapi-style fire and brimstone stuff, not soldering irons and
silicone chips.

There’s also megabytes of comment from cyberspace skeptics who think
it’s all a truckload of bunkum — but we’ll ignore them. As my
colleagues on tabloid newspapers are wont to say — don’t let the facts
spoil a good story.

   The genesis for this fear starts in the Bible where the Book of Revelation, Chapter 13, verse 18 reads: This
calls for wisdom. If anyone has insight let him calculate the number of
the beast for it is man’s number. His number is 666.
 

Ever since then doomsday seers have been looking for The Sign –
presumably so they can be well prepared, commit some debauchery before
they lose the chance or cash in their life insurance policies and have
a spree.

   They’ve even found it on consumer product bar codes. 

   Apparently, 1010011 is the binary number of the beast.  Watch for it on your next tube of skin whitener. 

Ever wondered why Bill Gates is so rich? Well, his real name is William
Henry Gates 111. Convert this to computer codes and the number adds to
666. The Antichrist, no less! And you thought he was just a smart human
being with a strong sense of philanthropy.

The idea of microchipping every newborn babe, which some crazed
politician (the standard type) proposes on a slow news day, is certain
proof that the mark of the beast will be fulfilled. And isn’t the web
address prefix "www" Hebrew for 666?

Loonies are not the only ones with an eye on the calendar. Commerce is
right in there ready to make a killing, whoops, profit, before man and
mammon cease to exist.

   Moviemaker 20th Century Fox is releasing an update of its classic film The Omen, first shown 30 years ago. The Omen 666 will open on … Well I’m not going to promote a flick I plan to flick. 

As the Bible says — this calls for wisdom. I know men are beasts.
Enough women have told me that over the years, though they’ve usually
recanted during breakfast. But let’s apply a bit of logic to the
formula.

   A Third-Century copy of the New Testament is said to have 616 as the dreadful digits. 

Heaven forbid that the Bible is wrong. Maybe those transcribing monks
got careless with their calligraphy. Imagine one bitter winter’s night
in a medieval monastery. Gaunt figures pore over parchments. The
beeswax splutters. The gnarled fingers tremble. The goose quill slips
and one becomes six. Or six, one.

   For the penmen a hieroglyphic hiccup. For us modern types, a typo. 

Purists believe the calendar started 2006 years ago. They’re out of
date. It’s only been around since the 16th century. Before that was the
error-prone Julian calendar and before that a dog’s breakfast of days
and months added at will.

So maybe today is not the real 666 as predicted. That date is yet to
come. When? Consult the entrails next time you buy a chicken.

Finally, some good news for all our Muslim readers. Not to worry –
today is 9/5/1427 on the Islamic calendar, with not a 6 in sight.

   Unless I add all the digits, divide by 9, add 5, subtract … Oh, what the hell.

Sandal jepit istriku

Friday, June 2nd, 2006

Aku kaget banget melihat artikel ini dimuat di kolom Resonasi Suara Merdeka hari ini. Bukanya apa** tapi aku hanya heran, kenapa tidak disebutkan siapa penulisnya, yang lebih tidak mengenakan, dibawah kolom tercantum, copyright@2004 SUARA MERDEKA, berarti yang punya hak cipta Suara Merdeka dong, really?? aku nggak percaya banget.

Pertama, aku sudah lihat tulisan ini disebuah website muslim 3 tahun yang lalu, dan dari waktu ke waktu selalu beredar di mailing list, to be fair aku nggak pernah tau siapa pengarangnya dan most of the time, orang yang menyebarkan tulisan ini biasa refer dengan "dari milist tetangga". I think that’s understanable, sebab itu forum tidak resmi, tapi kalau tiba** Suara Merdeka mengclaim itu hak cipta mereka, itu sangat tidak fair bagi siapapun itu penulis artikel ini, tentunya ini adalah contoh yang sangat jelek tentang penghargaan karya orang lain apalagi ini dilakukan oleh media nasional seperti  Suara Merdeka

…..dan kita berharap penjual VCD dan software bajakan untuk belajar menghormati hak cipta orang lain? please..

Anyway, aku baca lagi karena memang artikelnya sangat bagus, hampir 95% alur ceritanya sama cuman ada edit sedikit sana sini, seperti kata "mama" diganti "Maryam" dan pada akir cerita di edisi Suara Merdeka dia bilang "Alhamdulilah jazakallahu…" kallahu what..?? kalau orang muslim bilang gitu, biasanya dia nggak akan stop ditengah jalan kayak gitu, seperti yang ada di versi original "Alahamdulilah jazakallahu khoiro" (ucapan trimakasih muslim kepada laki**, jazakillahu kepada perempuan dan jazakummullahu untuk orang banyak). dan ada beda lagi disana sini, tapi kayaknya aku suka versi originalnya karena lebih masuk akal dan meyakinkan.

Anyway, yang aku paste dibawah ini adalah versi original yang aku tahu (kebetulan masih aku simpan dalam emailku) dan kalau pingin tau versi  Suara Merdeka klik di  disini. Either way, ini adalah artikel bagus buat para bapak dan calon bapak, spot the differences!!

==================================================================================

Selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa kesaldan jengkel yangmemenuhi kepala ini. Duh... betapa tidak gemas, dalamkeadaan laparmemuncak  sepertiini makanan yang tersedia tak ada yang memuaskanlidah. Sayur sop inirasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnyaasin nggakketulungan.  "Mama...Mama, kapan kau dapat memasak dengan benar...? Selalusaja, kalau takkeasinan...kemanisan, kalau tak keaseman... yakepedesan!" Ya, aku takbisa  menahanemosi untuk tak menggerutu.

"Sabar Pa..., Rasululloh juga sabar terhadap masakanAisyah danKhodijah.Katanya mau kayak Rasul...?" ucap isteriku kalem."Iya... tapi abi kanmanusiabiasa. Papa belum bisa sabar seperti Rasul. Papa taktahan kalau makanterusmenerus seperti ini...!" Jawabku dengan nada tinggi.Mendengarucapanku yangbernada emosi, kulihat isteriku menundukkan kepaladalam-dalam. Kalausudahbegitu, aku yakin pasti air matanya sudah merebak.

Sepekan sudah aku ke luar kota. Dan tentu, ketikapulang benak ini penuhdengan jumput-jumput harapan untuk menemukan 'baitijannati' dirumahku. Namunapa yang terjadi...? Ternyata kenyataan tak sesuaidengan apa yangkuimpikan.Sesampainya di rumah, kepalaku malah mumet tujuhkeliling. Bayangkansaja,rumah  kontrakanku tak ubahnya laksana kapal burak(pecah). Pakaianbersih yangbelum  disetrika menggunung di sana sini.Piring-piring kotor berpestapora didapur,  dan cucian... ouw... berember-ember. Ditambahlagi aroma baubusuknyayang  menyengat, karena berhari-hari direndam dengandetergen tapi takjugadicuci.

Melihat keadaan seperti ini aku cuma bisa beristigfarsambil mengurutdada."Mama...mama, bagaimana Papa tak selalu kesal kalaukeadaan terusmenerusbegini...?" ucapku sambil menggeleng-gelengkan kepala."Mama... isterisholihatitu tak hanya pandai ngisi pengajian, tapi dia jugaharus pandai dalammengatur  tetek bengek urusan rumah tangga. Harus bisamasak,nyetrika, nyuci, jahitbaju,  beresin rumah...?" Belum sempat kata-katakuhabis sudah terdengarledakan tangis  isteriku yang kelihatan begitu pilu."Ah...wanitagampang sekaliuntuk  menangis...," batinku berkata dalam hati."Sudah diam Ma, takbolehcengeng.  Katanya mau jadi isteri shalihat...? Isterishalihat itutidak cengeng,"bujukku  hati-hati setelah melihat air matanyamenganak sungai dipipinya."Gimana nggak  nangis! Baru juga pulang sudahngomel-ngomel terus.

Rumah ini berantakan karena memang Mama tak bisamengerjakan apa-apa.Jangankan untuk kerja untuk jalan saja susah. Mama kanmuntah-muntahterus, inibadan rasanya tak bertenaga sama sekali," ucapisteriku diselingi isaktangis."Papa nggak ngerasain sih bagaimana maboknya orangyang hamil muda..."Ucapisteriku lagi, sementara air matanya kulihat tetapmerebak. Pa...,siang nantiantar Mama ngaji ya...?" pinta isteriku. "Aduh, Ma...Papa kan sibuksekalihari  ini. Berangkat sendiri saja ya?" ucapku. "Yasudah, kalau papasibuk, Mamanaik  bis umum saja, mudah-mudahan nggak pingsan dijalan," jawabisteriku."Lho, kok  bilang gitu...?" selaku. "Iya, dalamkondisi muntah-muntahsepertiini kepala  Mama gampang pusing kalau mencium baubensin. Apalagiditambahberdesak-desakan  dalam bus dengan suasana panasmenyengat. Tapimudah-mudahan sihnggak  kenapa-kenapa," ucap isteriku lagi. "Ya sudah,kalau begitunaik bajajsaja,"  jawabku ringan.

Pertemuan hari ini ternyata diundur pekan depan.Kesempatan waktuluang inikugunakan untuk menjemput isteriku. Entah kenapa hatiini tiba-tiba sajamenjadi  rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempatisterikumengaji. Di depanpintu  kulihat masih banyak sepatu berjajar, inipertanda acara belumselesai.Kuperhatikan sepatu yang berjumlah delapan pasang itusatu persatu. Ah,semuanya  indah-indah dan kelihatan harganya begitumahal. "Wanita,memang sukayang  indah-indah, sampai bentuk sepatu punlucu-lucu," aku membathinsendiri.

Mataku tiba-tiba terantuk pandang pada sebuah sendaljepit yang diapitsepasang sepatu indah. Dug! Hati ini menjadi luruh."Oh....bukankahini sandaljepit isteriku?" tanya hatiku. Lalu segera kuambilsandal jepit kumalyangtertindih sepatu indah itu. Tes! Air mataku jatuhtanpa terasa. Perihnian  rasanyahati ini, kenapa baru sekarang sadar bahwa aku takpernah memperhatikanisteriku. Sampai-sampai kemana ia pergi harusbersandal jepit kumal.Sementarateman-temannnya bersepatu bagus. "Maafkan Papa Ma…,"pinta hatiku.

"Krek...," suara pintu terdengar dibuka. Akuterlonjak, lantasmenyelinap  ketembok samping. Kulihat dua ukhti berjalan melintassambil menggendongbocahmungil yang berjilbab indah dan cerah, secerah warnabaju dan jilbabibunya.Beberapa menit setelah kepergian dua ukhti itu,kembali melintasukhti-ukhtiyang lain. Namun, belum juga kutemukan istriku.

Aku menghitung sudah delapan orang keluar dari rumahitu, tapi isterikubelum juga keluar. Penantianku berakhir ketika sesosoktubuh berbayagelap danberjilbab hitam melintas. "Ini dia mujahidahku!" pekikhatiku. Ia bedadenganyang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lainmemakai baju berbungacerahindah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudahlusuh pula warnanya.

Diam-diam hatiku kembali dirayapi perasaan berdosakarena selama inikurangmemperhatikan isteriku. Ya, aku baru sadar, bahwasemenjak menikah belumpernah  membelikan sepotong baju pun untuknya. Akuterlalu sibukmemperhatikankekurangan-kekurangan isteriku, padahal di balik semuaitu begitu banyakkelebihanmu, wahai istriku.

Aku benar-benar menjadi malu pada Alloh dan Rasul-Nya.Selama ini akuterlalu sibuk mengurus orang lain, sedang isteriku takpernah kuurusi.PadahalRasul telah berkata: "Yang terbaik di antara kamuadalah yang palingbaikterhadap keluarganya." Sedang aku..? Ah, kenapa pulaaku lupa bahwaAlloh  menyuruhpara suami agar menggauli isterinya dengan baik.Sedang aku...?terlalu  seringngomel dan menuntut isteri dengan sesuatu yang ia takdapatmelakukannya.Aku benar-benar merasa menjadi suami terdzalim!!!

"Mama...!" panggilku, ketika tubuh berbaya gelap itumelintas. Tubuh itulantas berbalik ke arahku, pandangan matanyamenunjukkanketidakpercayaan ataskehadiranku di tempat ini. Namun, kemudian terlihatperlahan bibirnyamengembangkan senyum. Senyum bahagia. "Papa...!"bisiknya pelan dangirang.  Sungguh,aku baru melihat isteriku segirang ini. "Ah, kenapatidak dari dulukulakukanmenjemput isteri?" sesal hatiku. Esoknya aku membelisepasang sepatuuntukisteriku. Ketika tahu hal itu, senyum bahagia kembalimengembang daribibirnya. "Alhamdulillah, jazakallahukhairoh yahPa...,"ucapnya dengansuara  tulus.Ah, Mama, lagi-lagi hatiku terenyuh melihat polahmu.Lagi-lagi sesalmenyerbuhatiku. Kenapa baru sekarang aku bisa bersyukurmemperoleh isterizuhud  dan'iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahubetapa nikmatnyamenyaksikanmatamu yang berbinar-binar karena perhatianku...?

Indonesia setelah Suharto

Thursday, June 1st, 2006

Disaat semua orang optimis kala SBY memenangkan pemilu dan diangkat menjadi president, Aku sangat pesimis dia adalah orang yang tepat untuk memimpin negri ini. Tapi sejak beberapa bulan lalu, disaat semua orang mulai pesimis tentang kemampuan SBY dikarenakan naiknya harga yang dipicu penarikan subsisdi BBM, aku mulai optimis SBY adalah orang yang tepat, bukan yang terbaik, tapi yang paling baik diantara yang ada, untuk saat ini.

Kenapa aku dulu pesimis? ada beberapa faktor; Pertama, background militer dia. aku sangat takut dia akan merestorari kekuatan militer untuk masuk lagi kedalam eksekutif dan lembaga lesgislatif. kedua, personality dia yang  kurang decisive, lebih cenderung  menunggu untuk mengambil keputusan, kualitas yang kurang baik untuk seorang pemimpin, ketiga cara dia memenangkan pemilu, after all dia populer bukan karena performance dia selama jadi mentri tapi karena kecerobohan Taufik kemas mengolok olok dia, oleh karena itu dia populer karena simpati masyarakat, aku anggap itu sebagai seorang yang memenangkan lotrei untuk jadi president.

Kekawatiranku tidak jadi kenyataan, SBY bukan orang  yang heavy-handed sebagai layaknya militer dan penarikan total militer dari DPR adalah sesuatu yang melegakan (tapi Sutioso masih jadi Gubernur DKI ya?). Sifatnya yang menunggu untuk mengambil keputusan itu tetap kurang menyenangkan, tapi kayaknya cocok bagi Indonesia yang sekarang butuh kestabilan, bukan yang sangat Vocal dan grusa grusu kayak Amien rais, Idolaku dulu, after all SBY punya guine pig Jusuf Kalla untuk makilin saat dia pingin nyablak atau sekedar menguji kepopuleran kebijaksanaan yang kan dibuat.

Disisi lain, disaat semua orang pesimis (latest survey: kepopuleran SBY jadi 38% dari 70% saat pertama dia jadi president) aku mulai optimis, kenapa? karena ada beberapa hal yang dia lakukan yang aku sangat hargai. Pertama penarikan subsisdi BBM: semua orang bilang itu adalah sesuatu yang jelek bagi ekonomi, tidak membela rakyat dll. tapi kalo kita lihat baik** justru keputusan itu adalah satu**nya keputusan SBY yang sangat baik. kenapa? dengan adanya penarikan subsidi itu pemerintah bisa mengalihkan dana ke sesuatu yang lebih mengena, seperti program pengentasan kemiskinan dan subsidi lainya, tapi impact yang paling besar adalah untuk ekonomi makro.

Dengan adanya kebijakan itu pemerintah mampu untuk membuat kestabilan ekonomi yang sangat diperlukan disaat harga minya dunia melewati angka $70/Barrel. Kebijaksanaan itu bisa mengurangi rasio hutang Indonesia dari 50% GDP menjadi 30% by 2009, dan tentunay ini mengurangi ketergantungan kita terhadap IMF atau donatur lain belom lagi cadangan devisa negara yang naik cukup signifikan. Tentu ada inflasi sesaat, tapi untuk long termnya Indonesia bisa menekan inflasi di bawah 10%, dan dengan adanya pengurangan itupulah ekonomi Indonesia bisa sustainable; seperti pertumbuhan tahun ini yang diatas 5% dan mungkin akan lebih untuk tahun berikutnya.Aku mengerti dampaknya tidak langsung bagi rakyat luas, but trust me, kita semua akan merasakanya dimasa mendatang. Memang kebanyakan obat yang mujarab itu pahit rasanya, di kasus ini, aku pikir ungkapan itu sangat tepat.

Tentu saja SBY banyak sesalahanya tapi aku juga mulai melihat dari hasl kerjanya yang bagus; Aceh yang mulai damai, mulai adanya keseriusan dalam memberantas korupsi, meningkatkan iklim investasi (menyelesaikan maslah Exxon-Pertamina, mencoba merevisi undang2 buruh) dan politik luar negri yang mulai vocal (mencoba menjadi mediator Israel-Palestina, Iran-Amerika, presure ke Junta Myanmar dan pemersatuan Korea utara dan selatan). Meski semua itu masih terkesan half-heartedly dan belum mebuahkan hasil, tapi perlu dikasih penghargaan. Dan disaat musibah terus menerus menimpa Indonesia,it is hearting to see such an ackowledgement dari majalah paling respectable di dunia seperi di artikel di bawah ini.

Well, for now, itulah curhatku, not in a Bridget Jone’s kind of way, tapi itu memang curhatku. I guess, not many of my friends interested in this, but that certainly won’t put off my interest in my country.

Indonesia after Suharto: An understated success

26th May 2006,From The Economist print edition

Their former dictator is gravely ill. Indonesians have come a long way since his fall

AP

THE passing of a former dictator sometimes forces a country to take
stock of itself. So it is with Suharto, who for 32 years towered over
the world’s most populous Muslim country. As his life moves peacefully
to its close, Indonesians seems baffled about how to think about the
old despot. Many millions revere him as the man who saved them from
communism and led his country towards prosperity. Many more Indonesians
see him as a dictatorial kleptocrat whose family looted the nation,
whose goons harassed and tortured dissenters, and who clung stubbornly
to power until being forced out in 1998 by a huge, but blessedly
peaceful, popular revolt.

There is truth, of course, in both accounts, which is in part why
the government of Susilo Bambang Yudhoyono has seemed so uncertain how
to treat the old man. Until recently, it was still investigating him
for corruption. But on May 12th, as Mr Suharto seemed near to death,
the attorney-general abruptly declared that the government was dropping
all criminal proceedings against him. Now it is said that the
government is considering the possibility of bringing civil charges for
corruption against him instead—though given Mr Suharto’s health any
investigation would be purely symbolic.

Mr Yudhoyono’s ambivalence towards the dictator is symptomatic of a
big flaw in his administration: a reluctance to give Indonesia a true
culture of accountability. Mr Yudhoyono served as a general in the
Suharto years and has trodden carefully when confronting the worst
excesses of that time. Neither Mr Suharto nor any of his family has
been put on trial for corruption (though his son, Tommy, was jailed on
a murder charge before Mr Yudhoyono took over). Nor has there been a
determined attempt to bring to justice those army officers who oversaw
atrocities in East Timor and Irian Jaya (now known as Papua) after Mr
Suharto fell, let alone those who committed them while he was still in
power. To be fair to Mr Yudhoyono, his three predecessors also failed
to grasp this nettle and some lowlier officials have recently been
rightly fired. But as the first directly elected president in
Indonesia’s history he has had the legitimacy, and the duty, to do
better.

For all that, Mr Yudhoyono’s cautious and consensual style has
served Indonesia well. His greatest achievement has been to help bring
what increasingly looks like a permanent peace to Aceh, a separatist
province on the island of Sumatra, which has been fighting for
independence for 30 years. Tension in Papua, at the other end of the
Indonesian archipelago, has spiked in the past few months, but even
there things are quieter than they were in the early years of this
decade. Radical Islamism, though hardly eradicated, has calmed down
markedly, thanks to good police work and tough courts. All of these
things started to go right under Mr Yudhoyono’s predecessor, Megawati
Sukarnoputri, but he was her security minister.

A nice little earner

In the economic arena, Mr Yudhoyono has been equally impressive,
despite a slow start after his election in September 2004. He now has a
decent economics team, and he personally unblocked a tottering deal
between the state-owned energy company, Pertamina, and America’s Exxon
by replacing Pertamina’s top management. Other big deals are being
negotiated, helped by the perceived stability and relative integrity of
the government. Last October Mr Yudhoyono even dared to cut Indonesia’s
costly oil subsidies. He has kept growth steady at around 5% a year,
and the rupiah strong.

None of this
is irreversible. Indonesia has its fragilities. But as they take stock
of a painful past, its people can take pride in recent achievements. In
a giddily short space of time, they have built a plural democracy,
where Islamist parties can fight (and lose) elections peacefully, and
where the army at last accepts civilian rule. Indonesia is a steady
economic performer and an increasingly attractive destination for
investment. However history judges Mr Suharto, the Indonesia of today
has become, in its understated way, a success.