Mekarnya Generasi Emas Kedua

Arsenal-Juve 2-0? it’s a dream come true for me, kemenangan ini sangat special bukan hanya untuk arsenal ke semifinal Liga champion, tapi sejarah cinta dan kebencianku kebeberapa club di seri A ataupun Premiership.

Here’s brief profile of my football life, aku akan bikin sesingkat-singkatnya. di Premiership aku pendukung berat Arsenal, sudah 8 tahun aku setia pada club ini, naturally aku akan nggak akan suka MU, rival besar Arsenal, tapi ketidaksukaan itu berubah jadi kebencian karena suatu hal, akan diceritakan dibawah mengapa.


Di seri A aku pemuja Inter, my love to this club has blossomed way before I knew Arsenal, kalo ga salah sejak SMP kelas satu, which is 13 years ago, naturally aku juga akan tidak suka dengan rival beratnya, Milan dan Juventus, aku tetep tidak suka Milan sampai sekarang, tapi ketidaksukaanku itu tidak ada apa apanya dibanding kebencianku terhadapa Juve. I hate juve so much! no..itu kurang tepat, I loathe Juve!! no itu kurang keras juga, I despise Juventus from the bottom of my heart. why?

Here’s Why, masih teringat jelas dibenaku pada akir musim seri A tahun 1998, Inter hampir saja meraih Scudetto yang ditunggu tunggu sejak 1989, but Juventus ruined  it all. Not in a very nice way, karena pada pertandingan penentuan antara Juventus dan Inter, Ronaldo dijegal di kotak penalti, semua orang tahu Inter berhak mendapat penalti penentu kemenangan itu, but for my disbelief, wasit tidak memberikan penalti ke Inter, my heart sank seperti kapal Titanic, slowly, with the cold and pain no one else shall ever bear.

Besoknya aku baca dibeberapa tabloid betapa kuat pengaruh keluarga yang punya Juventus terhadap Asosiasi sepakbola italia (FIGG?) dan tentu saja tekanan itu akan datang ke wasit sehingga keputusan mereka akan jadi tidak obyektif dan cenderuung membela kepentingan Juve. Mungkin mereka adalah seperti mafia keluarga Carliogne dalam film Godfather. sejak saat itu I promise to myself, I’ll dedicate my entire life to hate juve, aku bahkan pernah berpikir, kalau aku jadi Milioner nanti, aku akan beli Juventus dan aku akan tutup club itu untuk pernah berlaga lagi disepakbola, just for the sake to piss off the entire Turin and everyone else who support Juve.

What about MU? masih ingat jelas juga, it was April 1999, beberapa hari sebelum Ebtanasku, aku menginap di rumah TG teman kelasku untuk belajar nyiapain ujian dan paginya bisa nonton siaran langsung MU-Inter di second leg liga Champion merebutkan tiket ke semifinal. semalaman aku ga bisa tidur, aku dan TG (sama* fans Inter) berdiskusi kira kira strategi apa yang akan dipakai Inter, I  actually believed that this time Inter is going to make it, and winning this match would be so sweet melihat lawanya adalah MU, club yang aku ga suka karena posisi dan arogansinya in the first place.

Jam 2.30 pertandingan dimualai, 2X45 menit I held my breath, I couldn’t take my eyes off the screen, adrenalin rush, near nervous breakdown saat hampir kemasukan gol. All hope, all the fantasy, all the dreams have gone in the final wistle, my heart’s broken into pieces, Inter lost to MU, a club I really don’t like and from then on, a club I will always hate forever. sekitar jam 5 pagi, TG dengan motor Suzuki tornadonya nganter aku pulang kerumah yang jaraknya sekitar 3km, sampai depan pintu, aku ga langsung masuk, aku dengar adzan subuh, aku duduk diteras, before I knew it, tears drop from my eyes, semakin lama semakin banyak, aku ga bisa tahan, maybe that was (waktu itu aku umur 17 th) the first tears since my chilhood, my heart was trully broken. aku ingat event beberapa bulan sebelumnya, dimana aku sangat suka sama satu cewe temen sekolahku, tapi dia terus pacaran dengan orang lain, I really liked her at that time. but when she walk away from me, I was dissapointed, but she didn’t break my heart, but MU did.

Kembali ke pertangan Arsenal Juve semalem, it was really like dream come true, bukan hanya karena Arsenal menang dan peluangnya menjadi besar untuk juara, tapi lebih kepada pembalasan sakit hatiku ke Juventus back in 1998. God..it feels good!!


Gunners-Interisti

Kamis, 30 Mar 2006,
Mekarnya Generasi Emas Kedua


            Arsene
Wenger sang raja, Patrick Vieira adalah panglimanya. Peran itulah yang
terlihat saat kedua figur tersebut mendampingi Arsenal menjalani
periode emasnya pada 1996 hingga 2005. Tiga trofi Premiership dan empat
trofi Piala FA berhasil direbut The Gunners bersama dua sosok tersebut.

Kepergian Vieira ke Juventus awal musim lalu diyakini akan
menjadi akhir kejayaan Wenger bersama Arsenal. Musim ini, perkembangan
skuad Arsenal tidak secantik tiga rivalnya di Premiership: Chelsea,
Liverpool, maupun Manchester United. Tubuh The Gunners dinilai terlalu
banyak pemain muda.

l atas Juventus (2-0) dini hari kemarin
menjadi jawaban atas keraguan tersebut. Jika The Gunners melengkapi
suksesnya ke semifinal, pasukan Wenger itu dipastikan bakal membuat
miris rival-rivalnya di Premiership musim depan.

Kalau dilihat
ke belakang, Wenger memang jago melahirkan pemain bintang. Ketika
bergabung Arsenal 1996 silam, kemampuan Wenger diragukan karena terlalu
banyak pemain muda. Namun, Wenger bisa menjawab kritik itu hanya dua
tahun. Dia mampu membuat Arsenal menjelma sebagai kekuatan yang
ditakuti di Premiership. Thierry Henry, Vieira, dan Robert Pires adalah
tiga pemain muda yang menjadi bintang The Gunners saat itu.

Nah,
belajar dari masa lalu, Wenger kini menatap generasi emas kedua
Arsenal. Francesc Fabregas, yang menjadi pahlawan kemenangan The
Gunners, masih baru menginjak 18 tahun. Jose Antonio Reyes juga
memiliki masa depan panjang dengan usia 22 tahun. Lini belakang The
Gunners juga penuh dengan pemain muda. Mathieu Flamini, Philippe
Senderos, dan Emmanuel Eboue masih berusia di bawah 22 tahun. Kolo
Toure genap berusia 25 tahun awal bulan lalu.

Henry, Pires,
dan Gilberto adalah tiga pemain senior yang diturunkan The Gunners.
Mereka mampu memimpin rekan-rekan mudanya dengan baik."Telah lahir tim
baru Arsenal dengan pemain-pemain muda yang hebat, " kata Wenger.

Arsenal
akan segera pindah home base ke Emirates Stadium. Di stadion
berkapasitas 60 ribu itu, bibit-bibit yang ditanam Wenger akan
menemukan media yang lebih baik untuk mekar. Sesuatu yang luar biasa
jika pada akhirnya nanti Fabregas dkk bisa mempersembahkan gelar Liga
Champions. Berikutnya, The Gunners akan kembali menantang Chelsea dan
Manchester United di Premiership musim depan

3 Responses to “Mekarnya Generasi Emas Kedua”

  1. dewi Says:

    ngomentarin tulisan yang udah agak-agak usang gak papa ya? abis lagi bete ngadepin kerjaan, so dari kemaren kerjaannya cuma friendsteran and ngusilin blog orang lain (tapi kamu bukan satu-satunya korban kok)

    this is my confession, pertandingan bola (i love milan and MU anyway) juga bikin aku nangis kok, many times…sedih, kesel, kecewa kalo tim kesayangan kita kalah.

    tapi sumpah, aku gak pernah membenci lawan2 mereka segedhe kamu membenci MU atau Juve…kok bisa sih? Benci sama satu orang aja aku perlu energi yang luar biasa gede apalagi membenci segerombolan orang plus pendukung mereka sejagat raya…apa ngga capek??

  2. Fulan Says:

    I’ll do anything for love…:p

  3. dewi Says:

    ok deh, no comment!

Leave a Reply