Mahar: Shall I compare thee to a summer’s day?
Artikel dari milist tetangga sebelah yang menarik. Disini digambarkan betapa pentingnya mahar itu bukan hanya dilihat dari sisi materi. Tercakup pula bahwa suatu mahar yang diberikan mengandung beberapa makna; sunah, penghargaan kita kepada sang istri, ekspektasi penerima mahar dan pentingnya mahar sebagai simbol cinta.
I quote "Sebaik-baiknya laki-laki adalah yang memberikan mahar yang banyak, dan sebaik-baiknya wanita adalah yang tidak meminta mahar yang banyak". Tentu besar kecilnya mahar harus disesuaikan dengan kemampuan si calon suami, peliknya, sebuah pernikahan itu tidak akan syah kalau si perempuan tidak ridho pada mahar yang berikan. Jadi sebuah mahar bukan hanya menggambarkan seberapa besar apresiasi lelaki terhadapa istri dan institusi perkawinan, tapi juga akan mengejawantahkan rasa cinta dan keiklasan istri untuk menerima suami apa adanya, sweet..
Decision, decision, decision…..what will I get for my wife? Hmmm…I have no idea, one thing I know for sure, I will sell my soul for something pure and true!
Ada cerita tentang pernikahan seorang Mualaf dari Negeri Belanda
(Erik Meijer) dengan seorang artis kita (Maudy Koesnaedi), yang dimuat di
Tabloid Nova tanggal 30 September 2001. Pesta pernikahan yang indah,
sampai-sampai tak sedikit tamu yang berfoto-ria, dengan latar belakang
indah bernuansa Belanda.
Lepas dari segala kekurangan yang mungkin ada dalam acara pernikahan
mereka, ada pelajaran yang menarik yang dapat diambil, yaitu
tentang
MAHAR yang diberikan oleh Tuan Erik Meijer kepada istrinya tercinta. Ia
memberikan mahar berupa uang tunai 23.901 Gulden (sekitar Rp. 96 juta
rupiah) dan seperangkat perhiasan, anting dan kalung emas bertatahkan
berlian. Masya Allah!
Semoga saudara kita, Erik Meijer diberikan ketetapan iman Islam, dan
mampu membangun keluarga yang Islami. Amiin.Sungguh, Tuan Erik Meijer, telah mengikuti sunnah Rasulullah SAW, dengan memberikan MAHAR yang bernilai kepada istrinya.
Muhammad SAW memberika Mahar kepada istrinya Khadijah berupa 100 ekor
unta muda. Coba kita hitung kalau 1 ekor unta muda = 10jt. 100 ekor
unta muda = 1 Milyar. Wow.. fantastis bukan? Mana ada jaman sekarang walaupun kaya raya memberikan mahar semahal
itu?
Muhammad muda sangat menghargai calon istrinya seorang yang mulai dan
terpandang, dengan mahar yang mahal.Ini berbeda dengan kebanyakan
masyarakat kita sekarang ini, yang"Gemar" memberikan mahar berupa "Al-Qur’an dan seperangkat Alat
Sholat".
Saya tidak meragukan, bahwa Al-Qur’an adalah Kitab Suci yang mulia.
Namun saya yakin, bahwa kebanyakan mempelai wanita tentu sudah memiliki
Al-Qur’an & Alat Sholat (jika ia bukan mualaf).
Saya belum pernah membaca kisah para sahabat yang memberikan mahar
sebagaimana Trend yang berkembang di tengah masyarakat kita sekarang
ini. Yang ada adalah di zaman sahabat adalah, jika ia miskin, maka ia
berikan harta yang terbaik yang dimilikinya. Atau jika ia benar-benar
tidak punya harta, maka ia boleh memberikan "Hafalan Al-Qur’an" sebagai
maharnya.
Mari kita renungkan ayat berikut:
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai
pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan
kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah
(ambillah)
pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik
akibatnya. -QS:An-Nisaa’ (4):4
Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut
kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian
itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. -
QS:Al-Baqarah(2):236.
Mari kita renung pula kenyataan yang ada di masyarakat. Berapa banyak
pasang suami-istri yang membaca Al-Qur’an setiap hari? Atau berapa
sering sang suami sholat bersama sang istri dengan Perangkat Sholat
yang diberikannya? Al-Qur’an dan Seperangkat Alat Sholat dijadikan simbol kesholehan
saat pernikahan. Namun setelah itu, tak jarang Al-Qur’an hanya disimpan rapi
dalam lemari, jarang disentuh, apalagi dibaca, dihayati dan diamalkan.
Alangkah ironis!
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Dalam Islam, permintaan dan pemberian MAHAR sangat berbeda dengan
sifat materialis
dan kepalsuan. Ini adalah ajaran Islam yang penuh
hikmah, yang bertujuan untuk melindungi dan memuliakan wanita, serta
memperkokoh keluarga. Sebagaimana kata-kata bijak berikut ini:
"Sebaik-baiknya laki-laki adalah yang memberikan mahar yang banyak, dan
sebaik-baiknya wanita adalah yang tidak meminta mahar yang banyak".
Sang laki-laki berusaha maksimal, sang wanita tak banyak menuntut.
Alangkah indahnya ….Sebagai penutup perlu saya sampaikan, bahwa MAHAR yang tinggi akan
menghambat pernikahan, sebagaimana yang terjadi di beberapa Negara
Teluk Persia sekarang ini. Sampai-sampai pemerintahnya turun tangan
memberikan Subsidi untuk Bujangan yang ingin menikah, agar dapat segera menikah.
Semoga tulisan singkat ini bermanfaat, minimal untuk saudara-saudara
kita yang belum menikah. Dan mohon maaf, kalau ada kata-kata yang
kurang berkenan di hati.
"Dan nikahkanlah orang-orang yang
sedirian diantara kamu, dan
orang-orang yang layak (nikah) dari hamba-hamba sahayamu yang
laki-laki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan
memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas
(pemberian-Nya)lagi Maha Mengetahui." - QS:An-Nuur (24):32
March 27th, 2006 at 5:28 pm
Temenku protes setelah baca artikel ini, dalam messagenya ke aku, dia bilang:
Eee… Enake mahar kok njaluk????, ketahuan matre he
he he…. benernya poin artikel itu kata-kata ini
looh rek!!:
“Sang laki-laki berusaha maksimal, sang perempuan tak banyak menuntut. Alangkah indahnya ….”
Matur nuwun koreksinya.